Kejadian alam atau musibah alam memang tidak ada yang pernah tau kapan terjadinya, sekalipun mengira-ngira tapi pada kenyataannya tidak akan pernah ada yang tau kapan akan terjadinya musibah tersebut.Begitu pula Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 kemarin pun tidak ada yang mengira. Letusan itu mengejutkan warga-warga yang berada di lereng gunung itu. Mereka takut dengan keadaan itu karena biasanya gunung itu hanya mengeluarkan lahar yang langsung mengalir kebawah.
Tanpa pikir panjang pati yang terlintas dipikiran warga-warga itu adalah menyelamatkan diri sendiri tanpa membawa barang atau harta bahkan anggota keluarga yang lainnya. Apalagi ternyata awan panas yang terjadi disana telah menelan korban. Dan tempat tujuan utama mereka pasti tempat pengungsian . untuk musibah kali ini tempat pengungsian tidak lagi di tenda-tenda melainkan di gedung-gedung sekolah, balai desa, dan rumah-rumah karena cuaca yang ekstrem.
Karena sebagian besar kelas-kelas dipakai untuk tempat mengungsi, maka ini berdampak pada anak-anak yang bersekolah di tempat itu. Otomatis kegiatan belajar dihentikan. Sama halnya juga dengan sekolah-sekolah tersebut , UGM juga menjadi tempat pengungsian. Ini berakibat tidak baik untuk program belajar sekolah-sekolah dan universitas tersebut.
Setiap hari pengungsi terus bertambah karena mereka semakin takut dengan keadaan disekitar gunung tersebut. Maka tempat pengungsian adalah satu-satunya tempat yang menurut mereka paling aman untuk berlindung. Walaupun sesekali ada beberapa warga yang pulang kerumah hanya sekedar untuk melihat keadaan rumahnya.
Efek yang akan terjadi pada warga dalam waktu ini pasti adalah ketakutan dan kecemasan. Mereka semua takut Gunung Merapi ini lebih ganas dari sebelumnya sehingga bisa memakan korban lebih banyak.
Erning Az Zukhruf Mayudha
1PA04
19510025
Ilmu Budaya Dasar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar