Ini waktunya ...
Kusadarkan semua mata, hati, dan pikiran
Enyahkan semua yang lalu
Ketika semua pada awalnya ku arahkan ke kanan
Ketika semua pada perjalanannya ku belokkan kekanan
Kupaksakan alurnya hanya ke arah itu
Kuharapkan arah itu sampai pada tujuan yang kudambakan
Ternyata itu arah yang salah
Terlalu banyak harapan yang menjadikan jalanan itu kerikil tajam
Yang tak bisa untuk aku lewati
Maka kurasa arah kiri lebih baik
Walaupun disana hamparan serpihan kaca
tetapi aku bisa sampai pada ujung jalan itu
Karena kiri memang arahku
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
1PA04
Senin, 22 November 2010
Angklung dalam acara Una Noche Indonesia (Malam Indonesia)
Lima - Setelah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai mata budaya warisan kebudayaan dunia, angklung Indonesia menggoyang Peru, Amerika Latin pada Una Noche Indonesia (Malam Indonesia).
"Acara ini terselenggara atas kerjasama KBRI Lima dengan Asociación Casa Hogar Padre Martinho sebuah panti asuhan ternama di Peru," tutur Sekretaris III Ika Yuniar Wulandari kepada detikcom, Sabtu (20/11/2010).
Asociación Casa Hogar Padre Martinho adalah panti asuhan yang didirikan oleh Pendeta Martinho Carlos María Gómez. Sebagai lembaga sosial, panti asuhan ini memiliki misi meningkatkan taraf hidup anak-anak dari keluarga miskin dengan menekankan pada pendidikan.
Nada-nada indah instrumen angklung dimainkan oleh Tim Angklung KBRI Lima dalam bingkai enam lagu yang telah populer di telinga warga setempat, yakni La Paloma, My Way, Guantanamera, El Condor Pasa, I´ll Be There dan O Sole Mio. Sementara tim tari menampilkan Tari Payung, Tari Piring, dan Tari Saman,
Penampilan kebudayaan Indonesia itu mendapat penghormatan standing applause dari para penonton yang memadati Auditorium Pedro Weiss, Lima, tempat Una Noche Indonesia digelar (16/11/2010). Pekikan 'Bravo!' membahana di ujung acara.
(Sabtu, 20/11/2010 20:06 WIB - www.detiknews.com)
Maka menurut saya Indonesia harus bangga memiliki alat musik angklung karena musiknya bisa diterima tidak hanya telinga orang Indonesia. Walaupun membawakan lagu-lagu barat tetapi dari situlah angklung bisa memukau dan menjadi daya tarik bagi pendengar-pendengar di Peru hingga bisa mendapatkan standing applause. kita juga harus bangga pada berbagai macamnya tarian-tarian yang berasal dari Indonesia yang juga bisa memukau semua penonton disana.
Maka sepatutnya kita harus melestarikan alat musik angklung kepada generasi-generasi selanjutnya agar salah satu kebudayaan Indonesia ini tidak hilang. Tidak hanya angklung tapi juga alat-alat music tradisional lainnya. Dan semoga nantinya bukan Cuma angklung yang mewakili Indonesia sebagai mata budaya warisan kebudayaan dunia tetapi juga kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang lainnya.
Mata kuliah : Ilmu Budaya Dasar
1PA04
"Acara ini terselenggara atas kerjasama KBRI Lima dengan Asociación Casa Hogar Padre Martinho sebuah panti asuhan ternama di Peru," tutur Sekretaris III Ika Yuniar Wulandari kepada detikcom, Sabtu (20/11/2010).
Asociación Casa Hogar Padre Martinho adalah panti asuhan yang didirikan oleh Pendeta Martinho Carlos María Gómez. Sebagai lembaga sosial, panti asuhan ini memiliki misi meningkatkan taraf hidup anak-anak dari keluarga miskin dengan menekankan pada pendidikan.
Nada-nada indah instrumen angklung dimainkan oleh Tim Angklung KBRI Lima dalam bingkai enam lagu yang telah populer di telinga warga setempat, yakni La Paloma, My Way, Guantanamera, El Condor Pasa, I´ll Be There dan O Sole Mio. Sementara tim tari menampilkan Tari Payung, Tari Piring, dan Tari Saman,
Penampilan kebudayaan Indonesia itu mendapat penghormatan standing applause dari para penonton yang memadati Auditorium Pedro Weiss, Lima, tempat Una Noche Indonesia digelar (16/11/2010). Pekikan 'Bravo!' membahana di ujung acara.
(Sabtu, 20/11/2010 20:06 WIB - www.detiknews.com)
Maka menurut saya Indonesia harus bangga memiliki alat musik angklung karena musiknya bisa diterima tidak hanya telinga orang Indonesia. Walaupun membawakan lagu-lagu barat tetapi dari situlah angklung bisa memukau dan menjadi daya tarik bagi pendengar-pendengar di Peru hingga bisa mendapatkan standing applause. kita juga harus bangga pada berbagai macamnya tarian-tarian yang berasal dari Indonesia yang juga bisa memukau semua penonton disana.
Maka sepatutnya kita harus melestarikan alat musik angklung kepada generasi-generasi selanjutnya agar salah satu kebudayaan Indonesia ini tidak hilang. Tidak hanya angklung tapi juga alat-alat music tradisional lainnya. Dan semoga nantinya bukan Cuma angklung yang mewakili Indonesia sebagai mata budaya warisan kebudayaan dunia tetapi juga kebudayaan-kebudayaan Indonesia yang lainnya.
Mata kuliah : Ilmu Budaya Dasar
1PA04
Minggu, 07 November 2010
Gunung Merapi 26 Oktober 2010
Kejadian alam atau musibah alam memang tidak ada yang pernah tau kapan terjadinya, sekalipun mengira-ngira tapi pada kenyataannya tidak akan pernah ada yang tau kapan akan terjadinya musibah tersebut.Begitu pula Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tanggal 26 kemarin pun tidak ada yang mengira. Letusan itu mengejutkan warga-warga yang berada di lereng gunung itu. Mereka takut dengan keadaan itu karena biasanya gunung itu hanya mengeluarkan lahar yang langsung mengalir kebawah.
Tanpa pikir panjang pati yang terlintas dipikiran warga-warga itu adalah menyelamatkan diri sendiri tanpa membawa barang atau harta bahkan anggota keluarga yang lainnya. Apalagi ternyata awan panas yang terjadi disana telah menelan korban. Dan tempat tujuan utama mereka pasti tempat pengungsian . untuk musibah kali ini tempat pengungsian tidak lagi di tenda-tenda melainkan di gedung-gedung sekolah, balai desa, dan rumah-rumah karena cuaca yang ekstrem.
Karena sebagian besar kelas-kelas dipakai untuk tempat mengungsi, maka ini berdampak pada anak-anak yang bersekolah di tempat itu. Otomatis kegiatan belajar dihentikan. Sama halnya juga dengan sekolah-sekolah tersebut , UGM juga menjadi tempat pengungsian. Ini berakibat tidak baik untuk program belajar sekolah-sekolah dan universitas tersebut.
Setiap hari pengungsi terus bertambah karena mereka semakin takut dengan keadaan disekitar gunung tersebut. Maka tempat pengungsian adalah satu-satunya tempat yang menurut mereka paling aman untuk berlindung. Walaupun sesekali ada beberapa warga yang pulang kerumah hanya sekedar untuk melihat keadaan rumahnya.
Efek yang akan terjadi pada warga dalam waktu ini pasti adalah ketakutan dan kecemasan. Mereka semua takut Gunung Merapi ini lebih ganas dari sebelumnya sehingga bisa memakan korban lebih banyak.
Erning Az Zukhruf Mayudha
1PA04
19510025
Ilmu Budaya Dasar
Tanpa pikir panjang pati yang terlintas dipikiran warga-warga itu adalah menyelamatkan diri sendiri tanpa membawa barang atau harta bahkan anggota keluarga yang lainnya. Apalagi ternyata awan panas yang terjadi disana telah menelan korban. Dan tempat tujuan utama mereka pasti tempat pengungsian . untuk musibah kali ini tempat pengungsian tidak lagi di tenda-tenda melainkan di gedung-gedung sekolah, balai desa, dan rumah-rumah karena cuaca yang ekstrem.
Karena sebagian besar kelas-kelas dipakai untuk tempat mengungsi, maka ini berdampak pada anak-anak yang bersekolah di tempat itu. Otomatis kegiatan belajar dihentikan. Sama halnya juga dengan sekolah-sekolah tersebut , UGM juga menjadi tempat pengungsian. Ini berakibat tidak baik untuk program belajar sekolah-sekolah dan universitas tersebut.
Setiap hari pengungsi terus bertambah karena mereka semakin takut dengan keadaan disekitar gunung tersebut. Maka tempat pengungsian adalah satu-satunya tempat yang menurut mereka paling aman untuk berlindung. Walaupun sesekali ada beberapa warga yang pulang kerumah hanya sekedar untuk melihat keadaan rumahnya.
Efek yang akan terjadi pada warga dalam waktu ini pasti adalah ketakutan dan kecemasan. Mereka semua takut Gunung Merapi ini lebih ganas dari sebelumnya sehingga bisa memakan korban lebih banyak.
Erning Az Zukhruf Mayudha
1PA04
19510025
Ilmu Budaya Dasar
Langganan:
Postingan (Atom)